Skip to main content

Goblin Kingdom - Chapter 12: Pesona Altesia

 Bantu kami dengan mematikan Adblock mu dan mengklik iklan dibawah ini



 --------------

Chapter 12: Pesona Altesia

[Race]: Goblin
[Level]: 99
[Class] : Noble; Ketua kelompok.
[Possessed Skills]: <<Horde Commander>> <<Defiant Will>> <<Overpowering Howl>> <<Swordsmanship C+>> <<Avarice>> <<Distant Soul>> <<A Ruler’s Wisdom I>> <<Eyes of the Blue Snake>> <<Dance at Death’s Border>>
[Perlindungan ilahi] Dewi Underworld, Altesia
[Attributes]: Kegelapan, Kematian.

Aku mendengar sebuah suara yang entah dari mana datangnya.

“Bocah.”

Suaranya begitu lembut, namun dipenuhi kebencian, dan pada saat yang sama...

Memuakan

“Bangun.”

Sebuah hembusan angin memaksaku untuk bangun.

“Bangun, anak ku.”

Perlahan suara itu menguasai tubuhku.

Terganggu akan suara itu, aku membuka mataku. Di depanku ada seorang wanita yang dikelilingi banyak ular

"Apa akhirnya kau bangun? Membuat ibumu menunggu, berani sekali kau."

Ular-ular berbagai warna itu melingkar disekeliling tubuh telanjang seksinya, memancarkan kesucian wanita itu.

Tubuhnya terlihat di pahat oleh para dewa sendiri, yang mana membuatnya tidak memiliki sedikitpun ketidaksempurnaan.

Di kedua dada berlimpahnya, ada ular bermata empat berwarna seperti gaun halus yang pas menutupi kedua belahannya, dan itu semakin menonjolkan segi menggoda wanita itu.

Dari kaki hingga pahanya yang sempurna, berlapis-lapis ular hitam berkepala-dua menutupi nya. Dan yang menutupi pinggan indahnya adalah Yamata no Orochi hijau dengan pola spiral merah terukir dipermukaannya.

Bibir merah yang lebih merah dari darah itu sendiri. Wajah sempurna tanpa sedikitpun kesalahan. Rambut bergelombang berwarna biru yang melebihi birunya langit.

Hidung, mulut, tiap bagiannya disusun secara sempurna. Dan Mata itu, mata berwarna emas itu membuatku terkesima pada keberadaannya..

Selain itu, dibelakangnya terdapat ular yang tak terhitung jumlahnya terus menggeliat-liat sambil menatapku.

“Senang bertemu dengan mu, ku rasa."

Suara lembut nan menggoda nya bergema ditelingaku. Hatiku segera berdetak dengan kencang.

"Siapa kau?"

Ia memikat, sangat memikat sampai aku bisa kehilangan kesadaran untuk sejenak. aku yakin aku akan membungkukan diriku padanya.

Aku menahan dorongan itu sambil menenangkan hatiku.

"Tapi kau sudah mengetahuinya, benar?"

Apa-apa'an senyum mempesona itu, terlalu hebat sampai rasanya seakan itu bisa melelehkan semua hati pria.

Senyum licik itu bahkan bisa mempesona seekor iblis, aku hanya bisa menggertakan gigiku saat aku bertahan melawannya.

“Altesia (Dewi Underworld), apa itu kau?”

"Ya, itu benar. Oh, aku sangat menyukai anak pintar."

Kata-kata itu hampir merusak benakku, tapi untungnya aku berhasil memenuhi hatiku dengan kebencian dan menjaga ketenanganku.

“Jiwa itu tidak cocok dengan tubuh kecil mu. Lucu sekali. Toh, akhirnya kita bisa berbicara seperti ini."

Saat Altesia berbicara, aku hampir tak bisa memperthankan kesadaranku. Pada saat yang sama, seolah-olah aku bisa hanyut oleh penampilan mempesonanya yang seperti air suam.

“Menakutkan.”

Suasana tenang itu tiba-tiba berubah menjadi dingin. Mata berwarna-emasnya menatap ku dengan tatapan yang mampu membekukan tulang.

Suasana itu akhirnya memungkinkan aku untuk kembali tenang.

“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan."

Altesia, melihatku acuh, tanpa emosi.

"Apa kau orang yang mengacaukan pikiranku?"

“Maksudmu?”

Senyum yang ia tunjukan hampir memperdaya ku, tapi tahu bahwa itu palsu, aku sedikit bisa menahannya.

“Aku tidak akan mengampuni mu untuk kedua kalinya."

"Dan jika kau tidak mengampuni ku, apa yang akan kau lakukan?"

Aku menjawab dengan ego ku seakan itu sangat wajar. Mengatasi orang lain dengan overwhelming will.. Dalam kondisi normal, itulah yang akan terjadi.

Tapi sosok didepan ku tidak akan goyah dengan sesuatu seperti itu, tidak sedikitpun.

“Apa kau sangat iri pada Zenobia (Dewi Healing)?”

Suasana disekitar seketika membeku.

"Apa kau menjadi gila karna cemburu, Altesia?"

“Tutup mulut mu! Apa yang salah karna cemburu! Tapi dia hanya berpaling pada Zenobia! Kenapa !? Aku tidak akan mengampuni Zenobia! TIDAK AKAN PERNAH! Aku, yang rusak, dan terdorong kedalam neraka, tidak akan, tidak akan pernah mengampuninya! Aku TIDAK AKAN PERNAH memaafkan wanita itu yang tidak pernah melakukan apapun selain memonopoli kasih sayangnya!"

Wajahnya yang indah telah pergi. Sudut matanya robek, dan darah mengalir dari sana. Ujung mulutnya juga ikut robek saat mengatakan itu.

“Kenapa Ativ tidak melirik ku!?”

Tangis dewi ular.

Menghembuskan udara panas, ia menekanku. Ular-ular menanggapi amarahnya dan perlahan mengancam.

“Anak ku, anak tersayang ku.”

Altesia mengarahkan pandangannya ke bawah.

"Kabulkanlah keinginan ibumu."

Sebuah keputusan mutlak.

"Berikan kehancuran pada dunia Ativ! Zenobia-"

Terhadap kebahagian luarbiasa miliknya yang berisi perintah untuk menghancurkan dunia, aku menjawab

"Aku menolak."

Ucapku sambil menggeleng.

Untuk sejenak, Altesia kehilangan apa yang aku katakan dan ia memiringkan kepalanya bingung.

Tidak ada jejak wajah iblis ular dari beberapa waktu yang lalu bisa dilihat. Wajahnya sekarang sama persis dengan wajah keibuan yang ia tunjukan pada awalnya.

"Aku tidak akan mengampuni siapapun yang bermain-main dengan ku!"

Aku memberontak, karena itulah aku

“Kau…”

Ular-ular di bawahnya secara bersamaan mengelilingi ku.

Kekuatan hebat bisa langsung menghancurkan apapun yang mereka serang. Dan kekuatan itu sekarang sedang mengancamku.

"Kau akan mengkhianati ku sementara kau telah menerima perlindungan ilahi ku?"

Menatap ku dengan tatapan yang terlihat seperti bisa membunuh, aku menatap balik langsung kedalam matanya.

"Aku yang memutuskan bagaimana aku hidup!"

Aku sudah mati sekali. Lupakan semua penyesalan yang tersisa ketika aku masih sebagai manusia.

Aku tidak memiliki keterikatan itu pada hidup ku sebagai monster saat ini.

Dan karena itulah aku tidak punya alasan untuk menundukkan kepalaku dalam perbudakan entah untuk manusia atau bahkan dewa!

“… Tapi, jika mereka mencampuri hidup ku, maka aku akan, dengan kemauan ku sendiri, menyingkirkan mereka!"

Ular-ular terus mengancam ku saat Dewi bertanya.

"Dan untuk apa hidup milikmu itu?"

Mempertaruhkan segala nya sebagai monster, aku berseru.

“Menaklukan dan menguasai dunia!”

Sebuah jalan yang tidak lagi dapat dikaitkan dengan kedamaian atau ketenangan.

"Aku akan membuat segala sesuatu yang ada di langit dan di dunia mengakuiku! Aku akan menginjak-injak segalanya, dan merampas semuanya untuk diriku sendiri! Dan aku akan mengukir nama ku ke dalam sejarah, dan tidak akan pernah dilupakan!"

Sebuah 'Pu' kecil terdengar, diiringi dengan tawa kecil, sampai akhirnya, Altesia tertawa terbahak-bahak sambil memegang kedua sisi tubuhnya.

"Ahahahaha.... Kau lucu, benar-benar lucu. Jadi yang coba kau katakan adalah, adalah kau akan mengalahkan mereka atas kehendakmu sendiri dan bukan karna perintah. Tapi tetap saja... Menaklukan dan menguasai, ahahahahahaha! Sombong! Arogan! Dan menyatakan itu dengan tubuh kecil itu... buhahahaha!”

Tawa yang sangat pantas untuk dewi ular. Seolah-olah Altesia telah berubah menjadi gadis normal, tertawa dari dalam hatinya karna sebuah cerita lucu.

"Okeh, okeh. Aku meyukai mu."

Kata Altesia saat mengusap air mata yang ada di sudut matanya.

“…”

Diam-diam, aku menjulurkan lidah.

Untuk berpikir ia akan benar-benar menertawakan deklarasi tulus ku, dewi inin sungguh hebat.


Baiknya, aku tidak akan mati untuk saat ini.

"Bocah, kau cukup berani yah?"

Altesia menatap ku dengan dekat, wajahnya berkilau seperti seorang anak kecil yang baru saja menemukan mainan baru. wajah itu, tampak seperti ia ingin bermain-main dengan ku dan mendapatkan segala macam reaksi.

Lalu ia dengan lembut meraih lidah ku yang menjulur dan menariknya.

"Baiklah, apa pun itu. Seorang anak akan sangat lucu ketika mereka bertingkah bodoh. Itu fakta umum lagi."

Aku tidak bisa berbicara dengan lidah ku yang ditarik seperti ini.

Menjulurkan lidah ku keluar adalah sebuah kesalahan.

“Ho ho, sekarang aku bisa melihatmu dengan dekat, kau punya wajah yang cukup mempesona, bukan?"

Ia melihatku dari atas sampai bawah sambil menarik-narik lidahku.

“Tapi… ah, kau jelas jelek. Sedikit lebih tampan bisa?"

Jangan tanyakan hal yang mustahil.

Aku bahkan tidak bisa melakukan apapun meski aku ingin, kau tau?

"Jika roh menginginkannya, aku bisa membentuk ulang dirimu."

Mata emas dewi underworld menyinari ku.

"Yah, apa pun itu. Kembali ke masalah utama."

Dewi underworld melepas lidahku, dan menepuk tangannya.

Segera, lingkungan berubah.

Dalam ruang dimana tidak bisa terlihat apapun, patung iblis yang menguasai kematian berbaris dalam kegelapan.

Pada saat aku melihat itu, Altesia sudah memposisikan dirinya, duduk di tahta dengan kaki disilangkan.

Mengenakan toga putih bersih, ia muncul dengan keindahan dan kesucian sejatinya. Jelmaan dari dewi yang luar biasa mempesona.

"Aku akan memberi mu hadiah."

Salah satu ular dari ular tak terhitung dibawah kaki Altesia, merangkak menujuku. Ular merah kecil bermata satu.

"Aku tidak butuh ular."

"Yah aku tidak mengatakan itu."

Kata dewi dengan tawa kecil.

Lalu, ular itu segera mendekati ku dengan kecepatan yang menakutkan, berjalan sendiri ke lengan ku, berusaha merasuki, dan masuk ke dalam dada ku.

"... Oi!"

Ini jelas masuk dan bergabung dengan tubuhku loh!

"Anak itu cukup manis, jaga baik-baik."

Gue gak peduli.

Ambil ini.

"Udah waktunya. Jadi, sampai jumpa, anak manisku."

Segera, kegelapan menarik semuanya, dan aku jatuh.

◆◇◆

Cahaya hangat menyinari ku.

kebisingan didekat telinga ku mendorong ku untuk bangun.

Dan perlahan-lahan, aku membuka mata.

Matahari bersinar, memancarkan cahaya tajam. Mungkin sudah ini sudah siang.

"Ahh, ketua bangun!"

Seru Giga sambil tertawa senang.

“Beritahu semua orang!”

Aku bisa mendengar Gigu berlari.

Dan kemudian...

"Mengapa... Mengapa kau melakukan sesuatu seperti ini?"

Ketika aku melihat Reshia meletakan tangannya diatas dahiku, hatiku terkejut.

Kemudian bau nostalgia, darah tercium ke hidung ku.

"Bau darah... apa yang terjadi?"

Tanya ku, dengan tubuh masih kusam dan sakit ini.

Giga menunduk malu, dan Reshia yang menjawab .

"Desa mu diserang. Dan dari yang terlihat, lebih dari setengah bawahan mu terluka atau terbunuh."

"Oleh siapa!?"

Aku menampar wajah ku dengan semua kekuatan ku, membangunkan kantuk ku.

"Orc"

Saat Reshia menarik tangannya dari ku, ia tampak menahan emosinya.

"Oi, apa yang terjadi dengan Swordsman perempuan?"

Aku tiba-tiba bertanya.

"...ia menjadi umpan untuk melindungi ku."

Tiba-tiba, Aku menggertakan gigi belakangku. Reshia tidak mengatakan apapun lagi.

"Sudah berapa waktu berlalu?"

"Sejak pagi hari, ketua. Kami terus melindungi harta benda ketua."

"Kita masih bisa mendapatkannya."

Aku menepuk punggung Giga meyakinkan dirinya.

"Kita akan mendapatkan mereka kembali, tunggu saja."

Aku meninggalkan Reshia dengan kata-kata itu, dan bertanya.

“Gi Ga, berapa banyak prajurit yang bisa bergerak?"

“10, ketua.”

"Itu cukup. Dan pedangku?"

“Disana.”

Sambil menunjuk ke arah pedangku, Iron Second yang berlumuran darah terlihat.

"Siapapun yang meletakan tangannya diatas harta milikku, tidak akan di ampuni."

Aku mengambil iron second, dan membawanya di atas bahuku.

"Tungu saja, aku akan kesana."

Aku menggigit lidahku kesal ketika aku melihat Reshia membersihkan lengan jubahnya saat berdiri.

"Kau hanya akan terluka."

"Orang yang menyembuhkan mu adalah aku!"

Cahaya kuat dari mata amethyst nya menyilaukan mata ku.

“… baiklah. Giga, lindungi Reshia. Siapapun yang terluka, serahkan padanya."

“Seperti yang anda perintahkan.”

"Ayo pergi"

◆◇◇◆◆◇◇◆

[Skill] <****> diperoleh.

◆◇◇◆◆◇◇◆


Comments

  1. Chapter 13 nggak bisa dibuka. Tolong diperbaiki. Min

    ReplyDelete
  2. Chapter 14 nggak bisa dibuka. Tolong diperbaiki. Min

    ReplyDelete
  3. Chapter 15 nggak bisa dibuka. Tolong diperbaiki. Min

    ReplyDelete
  4. Chapter 16 nggak bisa dibuka. Tolong diperbaiki min

    ReplyDelete
  5. Chapter 17 - 20 nggak bisa dibuka. Tolong diperbaiki.min

    ReplyDelete
  6. Chapter 21 dan 22 nggak bisa dibuka, 404 not found. Tolong diperbaiki min

    ReplyDelete

Post a Comment